LAMPUNG TIMUR (9/8/2026) — Semen menjadi penutup terakhir. Pada panel beton yang patah, bagian yang retak diolesi kembali. Pekerja meratakan semen, menutup celah yang terbuka. Setelah dipoles, panel itu kembali tampak menyatu. Papan beton tersebut tidak dibuang. Ia tetap dipersiapkan untuk dipasang di sepanjang saluran irigasi.
Pemandangan itu terlihat pada Jumat, 7 Agustus 2026, di lokasi pekerjaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Desa Trisinar, Kecamatan Margatiga, Lampung Timur.
Tidak semua panel mengalami kerusakan. Sebagian terlihat utuh. Namun sejumlah lainnya menunjukkan patahan dan tidak sepenuhnya mulus. Di lapangan, solusinya sederhana. Ditambal, dirapikan, lalu digunakan.
Pekerjaan itu dikerjakan kelompok P3-TGAI yang diketuai Susanto. Kontrak ditandatangani pada 25 Juni 2026 dengan masa pelaksanaan 60 hari. Nilai anggarannya sekitar Rp190 juta. Panjang saluran yang dikerjakan diperkirakan mencapai 600-700 meter. Angka tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pekerjaan fisik di lapangan.
Panel beton dicetak satu per satu. Ukurannya sekitar 43 sentimeter lebar, 45 sentimeter panjang, dan 18 sentimeter tinggi. Dalam proses pencetakan, kebutuhan material juga dihitung berdasarkan jumlah panel. Susanto mengatakan, satu zak semen dapat menghasilkan sekitar 10 panel beton.
Soal campuran beton, pendamping P3A menjelaskan komposisi semen, pasir, dan batu pecah yang menjadi acuan adalah 1:3:4. Namun, menurut pendamping yang sama, komposisi 1:2:3 masih dapat ditoleransi dalam pelaksanaan di lapangan.
Campuran beton itu ditambahkan air sekitar 33 liter untuk setiap zak semen. Zat aditif juga digunakan sebagai pengeras tambahan.
“1 kaleng untuk 2 zak semen,” kata Susanto pada 17 Juli 2026, merujuk pada penggunaan zat aditif tersebut.
Untuk tenaga kerja, upah yang disebutkan sebesar Rp120 ribu per orang per hari. Semua bahan dan tenaga itu kemudian bermuara pada sebuah panel beton yang akan menjadi bagian dari saluran.
Pada 7 Agustus Siang itu, beberapa panel memperlihatkan kondisi berbeda. Ada yang masih utuh. Ada pula yang mengalami patahan.
Panel yang patah tidak serta-merta disingkirkan. Pekerja mengoleskan semen pada bagian yang rusak. Permukaannya diratakan hingga bekas patahan kembali tertutup.
Dari permukaan, panel itu kembali terlihat utuh. Namun beton menyimpan persoalan yang tidak selalu terlihat mata.
(BW)













