WAWAY KARYA (24/8/2025) – Program itu disebut oleh petani dengan nama Serasi (
Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani). Suatu progam yang digadang-gadang mampu mendongkrak hasil pertanian. Namun, justru menyisakan cerita getir di Desa Marga Batin. Alih-alih membawa harapan baru, sebagian petani justru merasa dirugikan akibat pengerjaan galian tanah di sekitar jalan tani.
Program ini dikerjakan pada tahun 2024, namun hingga kini angin segar berupa kompensasi yang disangka akan diberikan kepada petani terdampak tak pernah benar-benar dirasakan.
Tanah hasil pengerukan untuk pembuatan siring dan irigasi dibuang begitu saja ke lahan persawahan. Ironisnya, sawah yang terkena tumpahan tanah itu sudah ditanami padi dan bahkan sudah dipupuk hingga dua kali.
“Tak ada musyawarah sama sekali,” ujar beberapa petani dengan nada kecewa. Mereka menilai pengerjaan yang semestinya mendukung pertanian justru berubah menjadi bentuk kezaliman.
Kekecewaan makin dalam karena muncul kecemburuan sosial. Sebab, Gapoktan setempat dinilai tebang pilih. Sebagian petani terdampak mendapat ganti rugi, sementara yang lain sama sekali tidak.
Sukirno, seorang petani, mengaku mendapatkan sejumlah uang dan beberapa karung dolomit sebagai kompensasi. “Terima ganti ruginya,” katanya singkat.
Namun, kisah berbeda datang dari Purwanto, Daman, Yuswanto, Desman, hingga Matngalim. Mereka mengaku tidak menerima sepeser pun atas kerugian yang dialami. Padahal, lahan sawah mereka juga terkena dampak tanah galian.
Menariknya, beberapa warga yang lahan sawahnya tak terdampak galian, justru ikut mendapatkan pupuk penyubur lahan. Mungkin, pupuk itu semula dimaksudkan sebagai bentuk kompensasi kombinasi bagi petani terdampak, namun distribusinya dinilai tidak tepat sasaran.
Petani menilai, proses pembangunan itu tidak pernah dimusyawarahkan sebelumnya. Mereka merasa tidak dilibatkan dalam keputusan yang menyangkut hajat hidup mereka. Selain itu, kesempatan kerja bagi petani setempat pun nyaris tak ada dalam proyek tersebut.
“Pembuangan tanah galian itu langsung masuk ke sawah yang sudah ditanami padi,” keluh seorang petani pada Minggu, 24 Agustus 2025.
Program Serasi sejatinya hadir untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Namun di Marga Batin, realitas di lapangan memperlihatkan jurang perbedaan. Sebagian kecil petani tersenyum karena dapat ganti rugi, sementara mayoritas hanya bisa menelan kerugian.
Harapan besar yang dibawa program ini akhirnya berbenturan dengan rasa kecewa mendalam para petani. Di balik jargon pembangunan pertanian, mereka justru mempertanyakan keadilan.
(BANG WAHYU)














