SUKADANA (20/4/2026) – Langkah RB, tersendat di halaman Dinas Pariwisata Provinsi Lampung pada Jumat, 17 April 2026. Anggota DPRD Lampung Timur itu tak sempat melaju jauh. Delapan orang menghadangnya. Mereka diduga debt collector.
Sumber terpercaya menyebut, pengepungan terjadi sesaat setelah RB keluar dari kantor dinas. Mobil yang ia gunakan langsung jadi sasaran. Situasi menegang, meski tak sampai ricuh terbuka.
Kendaraan Avanza tahun 2019 warna hitam itu itu diduga bukan milik pribadi. Informasi yang beredar menyebut mobil tersebut merupakan unit peralihan dari pihak pertama, berasal dari luar Lampung. Statusnya tak sepenuhnya bersih.
Upaya mengaburkan jejak diduga sempat dilakukan. Plat nomor kendaraan disebut-sebut dipalsukan. Namun pola itu gagal. Mobil tersebut diduga telah dipasangi GPS. Posisinya mudah dilacak.
“Sudah terbaca pergerakannya,” kata sumber itu singkat. Sabtu, 18 April 2026.
Selepas dari lokasi itu, RB tak langsung pulang. Ia sempat menuju penginapan untuk check out, lalu bergerak ke LPM. Tujuannya, mengurus persoalan kendaraan yang membelitnya.
Di hadapan para debt colector, RB memberi alasan. Mobil itu, katanya, milik bapaknya. Ia hanya meminjam.
Namun, sikap berbeda ditunjukkan saat hendak dimintai keterangan. Seusai rapat paripurna Hari Ulang Tahun Kabupaten Lampung Timur, RB memilih pergi. Ia meninggalkan gedung DPRD tanpa sepatah kata. 4 wartawan yang menunggu tak mendapat jawaban.
Hingga kini, belum ada penjelasan yang benar-benar membuka semuanya. Status kendaraan masih samar, dugaan plat tak sesuai belum terjawab, dan peran para penagih itu pun belum terang. Yang tertinggal hanya jejak yang belum utuh tentang siapa sebenarnya pemiliknya, dan apa yang sedang disembunyikan di balik peristiwa itu.
(BW)













