RAMAN UTARA (6/9/2024) – Nasib sembilan guru honorer di SDN 1 Raman Endra, Kecamatan Raman Utara, benar-benar di ujung tanduk. Selama lima bulan terakhir, mereka belum menerima gaji sepeser pun. Ironisnya, honor yang mereka terima biasanya hanya berkisar antara Rp150.000 hingga Rp600.000 per bulan, jumlah yang bahkan tak layak disebut upah.
Salah satu guru yang tak ingin identitasnya diungkapkan menyatakan bahwa sejak awal tahun, mereka hanya menerima gaji selama empat bulan. “Sudah lima bulan kami tidak digaji. Kami tahu dana BOS sudah dicairkan, tapi gaji kami tidak kunjung dibayar. Kami takut untuk menanyakan hal ini langsung ke kepala sekolah,” ucapnya dengan nada putus asa.
Upaya untuk mengonfirmasi hal ini kepada Kepala Sekolah Nurhayati pada Kamis, 5 September 2024 berujung pada kebuntuan. Nurhayati tak berada di tempat, dan pesan WhatsApp yang dikirimkan juga diabaikan.
Ketika ditemui, dua bendahara sekolah, Nindi dan Dwi, malah melempar tanggung jawab. Dwi mengklaim bahwa dirinya sudah tidak menjabat sebagai bendahara, dan Nindi yang kini memegang posisi itu juga enggan memberikan keterangan.
“Kami tak punya wewenang untuk bicara tanpa izin kepala sekolah,” ujar Dwi sambil berlindung di balik otoritas yang lebih tinggi.
Lebih mencengangkan lagi, muncul dugaan bahwa para guru di sekolah ini dipaksa bungkam oleh kepala sekolah. Seorang guru mengaku bahwa ia diminta berpura-pura menjadi bendahara jika ada LSM atau wartawan yang datang untuk melakukan kontrol sosial.
“Saya orang Lampung, jadi LSM atau wartawan segan sama saya,” katanya.
Dugaan penyelewengan dana BOS semakin menguat ketika seorang guru lain mengungkapkan bahwa setiap pencairan dana BOS selalu diawasi ketat oleh seorang anggota sebuah organisasi masyarakat yang dipercayai kepala sekolah. Guru–guru yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa, kini hanya bisa mengeluh dalam bisikan ketakutan.
Koordinator Wilayah Pendidikan Raman Utara, Anto Budianto, yang dihubungi, mengaku baru mengetahui masalah ini dan belum mendapat jawaban dari kepala sekolah.
“Saya sudah mencoba menghubungi kepala sekolah, tetapi belum direspon. Saya mohon bersabar dulu. Setelah mendapat informasi, saya akan segera memberi kabar,” ujar Anto
(SAMSUL)














